Jumat, 04 Mei 2012

quotes 74

"sejarah itu nggak perlu diinget-inget, kalau diinget terus kapan move on nya ?"

-postingan titipan salsabila Ramadhanti-

Kapten hari satu ~ Rizki Putra Bahari

Cerpen karya 74 *loncatloncat*

Dinding Kami Berbeda

            Deburan ombak berlomba memecah karangnya. Seakan semilir angin juga tak ingin kalah dengan angin di sekelilingnya. Perlahan – lahan telapak kaki memijat pasir pantai. Bahkan, jejaknya itu tidak mau pudar. Keadaan begitu sepi. Mungkin hanya dia yang sedang menyusuri jalan kecil itu. Sudah tampak dari jauh, tumpukan kayu berdiri lusuh di depan sana. Mungkin itu bukanlah tumpukan kayu,tetapi... gubuk. Kaki itu tetap bergerak fokus ke arah itu.
“Yaaaaah?”
“Ayah kamu masih kerja nak..”. Suara lembut terdengar
“Yaah, ini kan sudah aku belikan nasi campurnya bu”. Dijawabnya dengan manja.
“Ya sudah, sini Ibu bawa ke meja makan, nanti setelah Ayahmu pulang pasti dimakan”
“Mmm, sip deh. Retno tidur ya, Bu” .
Perempuan itu hanya tersenyum, menggerakkan lehernya ke atas lalu ke bawah berulang kali secara berurutan. Mungkin malam sudah melelapkan gadis kecilnya. Remang-remang lentera sederhana berdiri diatas papan kayu. Melewati alam bawah sadar hingga  fajar mulai datang.
            Kesehariannya mulai pagi adalah mandi lalu bersegera ke sekolah. Retno berpamitan dengan orangtuanya dan bergegas berangkat ke sekolah. Ia duduk di tingkat SMP. Tak seperti siswa siswi lainnya di Indonesia. Jarak ke sekolah ditempuhnya cukup jauh. Perjuangannya tidak bisa dikatakan ‘sedikit’, padahal itu hanya untuk sekolah, belum lagi perjuangan kehidupannya untuk keluarga. Kadang Retno juga membantu pekerjaan Ayahnya untuk menjual hasil panen ikannya. Untuk biaya sekolah saja ia suka menunggak, itu semua karena keterbatasan biaya keluarga Retno.

----------- *** -----------

“Selamat pagi anak-anak”. Sapa Ibu guru Retno, namanya Ibu Ashri.
“Pagi Bu...”.
“Wah, semangat sekali ya kalian, walaupun....”
“Atapnya rusak ya, Bu?”. Sahut salah satu murid yaitu Rina.
“Hmm... sabar ya Na, ibu tau kalian semua pasti tidak nyaman ya dengan kondisi sekolah seperti ini”
“Lalu, kapan Bu diperbaiki ?”. Tanya Retno penuh pengharapan
“Kalau masalah itu, sepertinya kita terpaksa harus menunggu bantuan dari pemerintah. Entah sampai kapan kita bisa diperhatikan oleh wakil rakyat negara ini,”
           
Memang sekolah Retno adalah sekolah satu-satunya di wilayah rumahnya, karena wilayah itu sangat terpencil dari kota. Sekolahnya berdiri atas bantuan warga, tepatnya sukarela. Bentuk sekolahnya hanya seperti gubuk milik warga lainnya. Guru hanya mendapatkan upah sedikit dari Yayasan. Guru di sekolah itu hanya 2, dan memiliki 1 kelas, dan lagi lagi karena ketidak mampan biaya. Jika di sekolah kota, membayar SPP saja ratusan ribu. Lain halnya dengan sekolah ini, para siswa membayar Rp. 20.000,- itu-pun Retno masih saja sering menunggak, sekolah sangat mengerti keadaan, jadi tidak memaksa para siswanya harus membayar. Secara keseluruhan tentang berdirinya sekolah itu adalah dari panggilan hati manusia untuk ikhlas membantu menyampaikan ilmu.
“Tapi, kalian tidak boleh patah semangat belajar hanya karena kondisi sekolah ini tidak nyaman, ibu tau kalian pasti ingin memiliki gedung sekolah yang bagus seperti sekolah di kota-kota lain itu lho,
“Bu.. kami khan juga ingin...”. Tak sampai omongan Retno selesai, kelihatannya Ibu Ashri sudah mengerti maksud dari beberapa kata yang didengarnya tadi.
“Iya, Ibu mengerti, tapi kalian harus bersyukur. Yang harus disyukuri disini adalah bagaimana kita dapat menyerap ilmu banyak dan mengusahakan ilmu itu dapat bermanfaat untuk kalian. Apalah arti gedung sekolah yang mewah, luas, bertingkat, tapi jika siswa siswinya tidak dapat memanfaatkan ilmu dengan benar?. Maka dari itu, jika kalian rajin belajar dan sekolah, siapa tau nanti jika sudah besar nanti kalian bisa bersekolah di luar negeri? betul tidak?”
“Wah, iya.. iya, betul tuh..”. Rusuh anak-anak dalam kelas menganggukkan kepala mereka.
“Baiklah, ayo kita lanjutkan pembelajaran. Tugas kalian adalah menulis cita-cita / keinginan kalian ya, beserta alasannya. Waktu untuk menulis adalah 15 menit”
            Tanpa banyak bicara, semua murid langsung menyambar pensilnya masing-masing. Mereka semua menuliskan apa yang diinginkan.
“Ada yang sudah ? Jika sudah, langsung berdiri dan membacanya ya..”
“Bu, saya sudah,”. Dengan siap Bejo berdiri dan membacanya
“Aku ingin punya rumah yang ada kolam renangnya, walaupun biasanya suka renang di pantai sih, lalu aku ingin punya guru les renang, aku ingin menjadi atlet renang yang hebat lalu lomba di luar negeri”.
“Wah, bagus sekali keinginanmu, ayo latihan di pantai dulu, baru kalau sudah mahir Ibu ajak ke kolam renang deh.. Selanjutnya siapa yang sudah selesai? Retno sudah? Kok melamun begitu hayoo...”
Emh.. ng.... ti...tidak kok,Bu. Sudah selesai”. Tatapannya mendadak beralih.
“Boleh dibacakan?”. Tanya Bu Ashri sambil tersenyum manis agar Retno tidak grogi.
Oke ,Bu. Jadi, keinginan saya adalah pertama saya ingin bersekolah di sekolah yang ada perpustakaannya, ada kantinya, jadi khan bisa pinjam buku dan beli makan sambil duduk-duduk sama teman-teman. Kedua saya ingin mendapat beasiswa bu, agar saya tidak menyusahkan kedua orang tua. Lagi pula mantap khan sekolah gratis, yuhuuu
Ckckck... Belajar yang gigih ya”.
 Bu Ashri terlihat begitu kagum dengan Retno yang memiliki banyak keinginan. Beliau hanya berharap dengan semangat Retno itu suatu saat keinginan salah satu muridnya tersebut akan tercapai.

---------- *** ----------


Siang yang terik, jalan raya yang sudah mulai dipadati dengan asap kendaraan. Peluhnya sudah mengumpul di dahinya . Berkulit putih, tinggi, badan yang bagus dan tinggi. Rambut keriting yang menggantung panjang mulai diikatnya. Terlihat begitu mengeluh letih. Sendiri yang membuatnya gelisah. Mimik wajahnya berubah riang, dilihatnya bangunan yang menjulang tinggi, membuatnya seakan ingin masuk lalu merebahkan badannya diatas kapuk empuk, ya, sudah terbayang olehnya.
“Duuuuuh, reseeeeee!!”. Lalu melemparkan tasnya pada sofa cokelat. Sofa itu terlihat sangat empuk hingga tas miliknya terpantul. Jelas sekali kualitasnya mahal. Tampakya terbuat dari rotan.
“Lho lho lhooo... ini kenapa anak mama yang paling pintar, cantik, imut, manis,alay...”
Stop stop stop stoooop!!!!!! Aduh, please deh ya mom, bikin mood lebih rusak aja deh”. Lalu dia mengkerutkan dahinya, kebiasaannya juga memajukan bibirnya saat dia sedang marah dengan seseorang.
“Iya deh, maaf ya sayang.. memangnya kenapa? Pulang sekolah mukanya sudah cemberut gitu?”
“Gini deh, mommy gak tau ya? Si Pak Juan itu tadi telepon aku, dia bilang katanya gak bisa jemput aku sekolah, alasannya sih katanya mau antar papa ke Bandung..,”. Mimik dan intonasinya manja sekali.
            Dia adalah anak pertama dan terakhir, maka dari itu dia selalu dimanjakan oleh mama dan papanya, panggil saja Anggun. Anggun hidup di kota dengan kehidupan yang berkecukupan. Sekolahnya saja mewah. Tentu saja setiap orang tua ingin membahagiakan anaknya, salah satunya dengan cara menyekolahkan anaknya di sekolah yang mutunya bagus, gedungnya besar, dan sekolah yang dibilang ‘sekolah favorite’. Sekolahnya bertingkat, kelasnya saja memiliki fasilitas yang dikatakan lebih dari cukup, ber-AC. Pasti untuk membayar sekolahnya saja mahal.
“Lebih parahnya lagi, aku jadi gak bisa ikut temen-temen buat jalan bareng ke mall buat shopping mom, please yeaaa hellooooo!!”. Tetap menunjukkan intonasi yang terdengar menyebalkan.
“Ya sudah, khan bisa lain hari kalian ng-mall bareng lagi, jangan cemberut dong, nanti gak anggun lagi lho, hehehe”. Disentuhnya rambut gadisnya yang terurai bagus, halus sekali rambutnya hingga mudah saja untuk membelai rambut milik Anggun.
OHMY!!!. Anggun mau ke kamar dulu, isirahat, Anggun capek abis naik angkot, jalan pula, ewhhh, kamseupaaay hari ini!!!”. Anggun bergegas membawa tasnya lalu mengunci pintu kamarnya dengan kasar, sangat terlihat sekali penderitaan Anggun hari ini, mamanya hanya tersenyum karena beliau mengerti tidak biasanya anaknya menjalani keseharian seperti ini, apalagi naik angkot”

---------- *** ----------

            Kerlap kerlip cahaya teve dengan seorang gadis yang duduk di sofa melihat dengan tegang berjalannya sinetron.
“Angguuuun, ayo belajar dulu, jangan nonton teve terus, besok ada ulangan gak?”. Teriakan mamanya itu serentak membuat Anggun risih.
“Aduuh mom, hari gini masih jaman belajar? Besok khan juga belajar di sekolah, gak ada mom!!”. Serunya, sambil berusaha mencapai suaranya agar bisa sampai ke kamar mamanya.

---------- *** ----------

Lain halnya dengan Retno. Gadis yang mulai menginjak remaja itu giat belajar, pastinya termotivasi dari keinginannya selama ini dan lagi lagi hanya ada lentera sebagai penerangan agar bisa mengukir tinta hitam pada kertas lusuh miliknya. Kehidupan di kota dan pelosok sangatlah berbeda, dari pergaulan-pun juga. Mungkin tergantung orang yang menjalaninya bisa mengatur hidup mereka masing-masing, tetapi begitulah perbedaannya.

Hari mulai semakin larut. Jarum jam-pun terus berputar. Jarum pendek dan jarum panjang jam kompak mengarah pada angka 12. Tiba-tiba matanya bergerak keatas, membuka mata lalu.... terbangun.
“Aku bermimpi ada banyak gadis disana yang beruntung, bisa menjadi wanita karir, apa karena sekolahnya mewah? Aaah, sudahlah, kata Bu Ashri khan kita harus bersyukur. Suatu saat nanti pasti aku percaya, Tuhan akan membantu”. Senyumnya merebah lalu mengantarkannya terlelap kembali.

---------- *** ----------



Pagi dunia mulai menyapa. Teriknya mengalahkan tirai biru lalu masuk melalui lubang kecil kainnya. Cahayanya yang lurus mengarah pada mata Anggun seakan ingin membangunkannya dari malam lalu berganti ke fajar hari itu. Semangatnya begitu menonjol hari ini. Diraihnya kain putih dan dibawanya ke kamar mandi untuk mengeringkan badannya. Seperti biasanya setelah mandi dan berpakaian rapi, pembantunya sudah menyiapkan berbagai makanan lezat yang tentunya bergizi. Meja makannya-pun mewah. Mama dan papanya sudah menunggu Anggun di ruang makan.
“Anggun, masalah kemarin daddy minta maaf ya, Pak Juna lagi pulang ke kampung, jadi daddy minta Pak Juan anterin daddy ke Bandung, maaf ya sayang..”. Ujar papanya seketika
“Oh, it’s okay dad”. Jawabnya riang, mungkin dia sudah melupakan betapa susahnya dirinya kemarin siang.
“Tuan, ini korannya baru datang”. Tanti adalah pembantunya, tidak hanya Tanti saja yang menjadi pembantu di rumah keuarga Anggun, ada 2 pembantu perempuan lagi yaitu Harti dan mbok Minul. Keluarga Anggun memiliki 2 sopir pribadi yaitu Pak Juan dan Pak  Juna.

Anggun terlihat lapar, dengan cepat dia mengoleskan selai rasa stroberi pada roti tawar yang berada di telapak tangannya. Lalu dengan lahap dia menyantap roti tawar itu, selai stroberi yang masih terasa di sela bibirnya seperti diajak oleh lidah untuk masuk ke langit mulut lalu dirasakan nikmatnya. Papa Anggun sibuk menghisap lal meminum kopi hangat dengan santainya sambil membaca koran, sedangkan mama Anggun sibuk menyiapkan tas kerja suaminya.
“Eh , eh , Nggun.. Baca deh ini,”  Lalu koran itu berpindah tangan.
Anggun hanya membaca judulnya sekejap lalu arah matanya tertuju kembali ke papanya.
“Iya, tentang Hardiknas, di koran itu, katanya banyak siswa yang kurang mampu untuk bersekolah, lalu ada juga di pelosok sekolahnya sangat kurang memenuhi standart, perjuangan murid di negeri ini yang bekerja sendiri contohnya jadi pengmis, pengamen, padahal hanya untuk bisa membayar uang sekolah. Miris ya?”. Terang Ayahnya panjang lebar hingga melihat ekspresi wajahnya sangat mengerti apa yang diberitakan di koran.
“Kasihan ya dad, kok orang tua mereka bisa gak mampu gitu ya buat menyekolahkan anaknya, khan demi...”
“Nah, maka dari itu, sebenarnya kamu bersyukur sudah diberi rejeki oleh Tuhan, sekolah tujuannya untuk mencari ilmu, daddy ingin kamu di sekolah bisa memahami prosesnya, bukan untuk mengejar nilai. Daddy ingin kamu bisa mengerti, memahami segalanya dari masing-masing ilmu, lalu menurut kamu apalagi gunanya sekolah itu?”
“Hmm.. untuk cari temen, bersosialisasi dengan lingkungan, and for sure hangout with friends!!! Right?
“Ckckck Anggun, memang sebagian dari kamu benar, hanya saja ada yang salah.. Tujuan sekolah bukan agar bisa jalan ke mall bersama banyak teman – temanmu yang gaul itu, tapi yaa.. seperti tadi yang sudah daddy jelaskan, uang bukan untuk dihambur-hamburkan, daddy  susah lho cari uang, kerja, itu semua bukan buat dihambur-hamburkan, tetapi untuk kebutuhan hidup Anggun, daddy, mommy..
“Haha, maaf ya dad kalau selama ini Anggun manja, Anggun baru bisa bayangin betapa banyaknya anak-anak yang belum bisa sekolah, lalu mengapa Bapak,Ibu Pejabat tidak membantu mereka? Bukannya mereka berkecukupan lebih, dan seharusnya lebih merangkul rakyatnya?”
“Tugas pejabat tidaklah sedikit, Nggun. Mereka harus megurus tugas negaranya sesuai bidang yang sudah ditentukan oleh presiden. Maka dari itu kamu kalau sudah besar harus membantu negara ya.. jadi anak Indonesia yang berguna, boleh tuh kalau di bidang pendidikan”
“Waah, amieen dad. Lain waktu kita ke desa gitu kek, memantau anak-anak disitu, pengen deh  bisa mendirikan sekolah gratis disana, wooow, asyik pasti!”
“Nah, gitu dong gadisnya daddy...”
Mereka tertawa bersama sambil menyadari betapa mahalnya sifat sederhana. Anggun juga menyadari bahwa masih banyak anak yang kurang mampu dan mereka tidak bisa sekolah atau menginginkan sekolah yang layak untuk mereka. Tanpa disadari salah satu contohnya adalah Retno dan kawan-kawannya.

---------- *** ----------

Lalu bagaimana tanggapan Pemerintah tentang Hardiknas mengingat banyak anak-anak di Negeri ini  yang belum bisa bersekolah karena keterbatasan biaya, sehingga mereka harus ikut bekerja seperti orang tua mereka, lalu masih banyak sekolah yang belum layak dari segi kualitas, gedung, sistem pengarajarannya?






OSIS cup ? kece badai

  Hai dude ! kali ini postingan kita mengenai OSIS (ke)cup ~

tanggal 3 Mei adalah hari kedua terlaksananya OSIS cup, and we’re still on fire ! sungguh amat sangat excited dengan diadakannya acara OSIS cup ini, banyak freetime nya wah! 
(jeritan hati : tolong diadakan setiap hari).
  Best of the best lah ! kenapa ? karena acara ini bikin kita fresh lagi dan ada hiburan yang menarik, seperti flashback ke suasana DBL gitu.
Cuma bedanya ini diadain di sekolah. S e m u a kelas unjuk gigi :D (kecuali kelas aksel dan kelas 9). Dan yang bakalan dibahas sama happy three kali ini adalah kompetisi futsalnya !
  Futsal sendiri adalah penyaluran hobby anak-anak cowok, ini adalah masa kejayaannya mereka ! masa kejayaan cowok-cowok nguber bola sepak *puter bola mata* 

 Dan juga nih yang nggak kalah penting adalah masa kejayaannya buat orang-orang yang secara beruntung dikaruniai (duh bahasanya ‘dikaruniai’) kamera SLR ~
Dimana SMP 1 berubah menjadi lautan SLR, mulai dari SLR biasa- SLR keren- sampe SLR Luar biasa semua ada disini lengkap dah, sungguh pemandangan yang ‘mahal’ banget !
sebenernya kasian sama anak-anak yang gapunya SLR sih, buat mereka-mereka yang gadibolehin dulu buat punya SLR pasti Cuma bisa ngiler doang *curcol* dan mentok-mentok nya Cuma melancarkan jurus ‘nyilih gaya’ ngahaha. 
Inilah penggalauan anak yang berada di dunia penuh gadget (baca : kita bertiga)  -_____-

Back to osis cup.

 yang bakalan dibahas adalah : hari kedua ini alias babak ke dua (?) yaa semacam tanding lagi gitudeh. Yang menarik perhatian adalah kostum nya yang unyu-unyu. ngerubah penampilan cowok culun berseragam sekolah menjadi cowok kece berseragam bola. Nggak kalah penting dari kostum adalah sepatu futsalnya nih ! ‘cliiingggg’ nyorot banget dan nancep di hati *apaan sih* dengan warna yang beraneka ragam, biasanya warna-warna nyala gitu. Ijo kuning biru sampe warna yang paling macho = pink dan ungu.

Sebenernya hari ini adalah hari libur yang disia-siakan, Udah untung dikasih libur eeeeh malah pada dateng ke sekolah semua ! serasa nggak libur gitu, semua tumplek di lapangan futsal dan kantin. Kita mbela mbelain dateng untuk ngedukung tim dari masing-masing kelas,begitupula dengan anak RETRO!

Kali ini tim 74 sukses bikin jantungan, kenapa hayo ? karna jadwal main nya 74 diundur akibat dari kurangnya pemain tim lawan (yang pada saat ini ngelawan 76). Dan kebetulan banget jadinya anak-anak retro futsal yang ada acara smantigda cup bisa pergi dulu tanpa harus meninggalkan permainan di osis cup. Yang pergi adalah pemain-pemain kece 74, siapakah ? Rizki,Agam,Ariq,Fairuz,Jafar.

  Kita sempet jantungan dengan berbagai macam pertanyaan yang melintas di otak adalah :
 “Kapan mereka balik?” “bisa balik tepat waktu gak ya?” “masih lama gak baliknya?”. Dan coach nya futsal 74 (anum) Cuma bilang,
“kalo mereka nggak balik ya kita pake strategi bertahan, bukan menyerang” 

memang coach yang super sekali. Anum ini cewek penggila bola, dia yang ngatur strategi anak 74, dan menyebabkan cewek-cewek lainnya cuma bisa melongo ndengerin dia ngomong tentang bola, sungguh pembicaraan yang sukar diikuti -___-

Well well, akhirnya kita yang udah siap-siap buat triak-triak harus nahan suara dulu, nungguin 74 main. Cuma karna suasananya heboh banget akhirnya kita kalap, dan ikutan triak-triak sepenuh tenaga. Yaapa nanti kalo pas 74 main kita udah kehabisan suara ? gak mikir ancene -___- tapi emang gemes banget pengen teriak ! siapapun yang main bakalan kita dukung kok :D kita kan baik ye ga ? lagian kelas-kelas lain mainnya juga kece banget ! aku berhasil nangkep ekspresi selebrasi dan posisi nendang yang keren keren ! iyadong SLR siapa dulu ? SLR nya ......... ............Salsa u,u.

 RETRO dapet tempat nonton dibelakang gawang, view nya keren banget ! guess what ? kita dipantatin sama kiper-kiper *ngelus dada*, tapi malah hasil fotonya keren-keren loh, karena pemainnya lari ke arah kita (gawang) hehe :D jurnalis nya RETRO puas sekali njepret-njepret dari sudut sini, yah lumayan lah ~ kita tetep seneng walaupun di pantantin (?) dan ada teman kita yang cantik Dellaura Mercia yang memiliki kreatifitas yang bikin ngenvy mbela-mbelain mbikinin tim futsal kita spanduk (apa poster ya?) dengan tulisan “GO FIGHT WIN RETRO”, dia hias dan tulis tangan, yaa tulisannya emang kece badai ! kita berasa jadi suporter sejati deh :D apalagi posternya ada 4 lembar ! dan gede gede banget.

 Retro pun baru punya tradisi sesat dan jangan sampai diikuti sama kalian semua yang mbaca postingan ini, apaitu ? kita sekelas muter lantai atas sebanyak 2x berturut-turut dengan harapan nanti anak 74 nyetak banyak gol. Nggak ada hubungannya sama sekali deh sama futsal -__- dan kita tau kalo itu bodoh banget, tapi entah bagaimana kita tetep aja njabanin muter lantai atas 2x. Sebenernya ini faktor iseng haha. Rencana awal kita sih bakalan muter 7x , tapi dipersingkat jadi 2 puteran gara-gara PEGEL. Dan berakhir jadi duduk-duduk nggosip sembarangan ! hahaha 

 Setelah komat-kamit mbacain doa dan mantra supaya anak RETRO ‘kece’ cepetan dateng, akhirnya mereka beneran muncul ! tepat waktu banget pas giliran mereka tampil ~ baru kali ini kita bahagia ngeliat mereka dateng. Dan karna waktu yang mepet akhirnya pada ganti baju disitu, langsung dan tanpa sensor -__- tapi masalahnya gaada yang sixpack (?). Yaah setelah itu mereka tampil menggebrak dunia persepak bolaan, dengan kapten Ariq Muhtadeebilah akhirnya retro menyerang kelas 76 . Kelas 76 sendiri kekurangan pemain dan hanya ngeluarin (kalo nggak salah) 4 pemain, jadinya RETRO sedikit melunak. 76 juga mainnya keren banget ! Cuma karena faktor kurangnya pemain mereka agak nggak prima sih, but still mereka kece :D.
Selebrasi retro adalah : treak-treak dan nyemprotin ‘busa snow’ ke pemain-pemain futsal retro :D snow yang unyu banget ! kalo nggak tau snow nya yang kayak di TV ituloh, biasanya ada yang ulang taun dan disemprot busa putih ? yeah itulah dia.


SELAMAT YA PEMAIN 74


 Pertandingan berakhir dengan masuknya retro ke babak selanjutnya. Bakalan dapet lawan yang lebih susah laginih. Jadi diharapkan RETRO tetep latihan dan nyiapin mental yaa cuyyy
 Kita sayang bangga dan selalu dukung RETRO !


lokasi 74 nonton :D

Osis cup ! kami menyambutmu dengan cinta


Let’s the Osis Cup begin,
 Happy Osis Cup ! 
''may the odds be ever in your favor''

Buat kalian yang kece badai pasti tau kan darimana asalnya quotes diatas? Iya benar ! itu adalah quotes nya The Hunger Games J kenapa kita mengusung tema Hunger Games ? karna hunger games ini cocok banget sama suasana kompetisinya OSIS CUP, bukan bunuh-bunuhannya loh! Cuma dari sisi ‘kompetisi yang dilaksanain anak-anak remaja untuk mendapatkan posisi juara” dimana semua nya itu dikeluarin yang terbaik, setuju kan ? lagian ini adalah film dan buku yang lagi booming mengikuti jejak Harry Potter dan Twilight Saga.

 Kami sendiri (farah dan Kince) adalah penggemar film Hunger Games, dan kami juga adalah penggemar Osis Cup hahaha :D

Selamat berkompetisi ya J keluarkan yang terbaik uhuy !

okeh kita bakalan kenalan dulu yah , ini adalah author nya Retro on fire ~
well, tak kenal maka tak sayang. jadi ketiga author keren ini mau memperkenalkan diri ke kalian semua. semoga setelah kalian baca ini kita bertiga jadi famous ya HAHA , duh ngelantur. check it out ajadeh


Happy three :


#ADI PUDJIANTO NATHANTO UTOMO.


 siapasih Adi Puji ini, spesies barukah ? bukan kok, bukan spesies baru. tapi dia adalah sosok laki-laki tinggi yang selalu menampakan diri di kelas 74. bisa dilihat dari jarak 1 mil berkat tinggi badan yang luarbiasa :D Adi ini ketua kelas serba bisa ! Multitalent sih kagak juge ye.... Tapi dia itu "always listening, always understandinggitu.. dan yang terpenting dia itu keren dan ganteng pastinya  '_' cukup sekian ye, aku mencoba memberi kesan misterius untuk kalian semua    *lempar laptop ke admin selanjutnye*


#FARAH SEPTIANA


Sekarang ganti saya yang akan menyabotase blog ini, HAHAHA ._.
 tentunya aku cuma manusia biasa. berambisi jadi bidadari sih cuma hopeless (?)
Farah Septiana itu anak cewek (what do you think, huh?) semacam wedhok medhok notok jedok, jilbabers, alim, kece, personil kelas 7-4, absen 15, dan cinta mati sama yang namanya Taylor Swift !.
 Udah ya segitu aja, salam peluk hangat from Farah Septiana with love :*


#Rr.Kintan Dewi Girindra


sebelum mulai memperkenalkan diripun aku udah keliatan curang kan yah ? buat yang bermata jeli pasti menyadari kalo cuma namaku doang yang ditulis dengan manis dan tanpa capslock :) yah VVIP gewla.
 aku bisa dipanggil pake Kince ataupun Kiddy, kalo terpaksa juga boleh panggil aku Kintan -.- tapi aku nggak terlalu suka dipanggil 'Kintan', alasan ? aneh gimana gitu.
 well, aku ini sama aja kayak cewek kebanyakan, rambut sedikit melebihi bahu, rambut model lurus nggak nggenah, berat yang proporsional buat tinggi badan, dan mempunyai mata yang bisa dibilang menyeramkan kalo udah ngelirik tajem ala setan hahaha ~ banyak yang bilang childish, dan memang benar :D aku adalah tipe orang yang mencoba jadi diri sendiri . quotes favorite ? "DUH"
  

udah baca kan ? berarti udah kenal dan udah sayang dong yaa ~ auw :3 semoga blog ini bakalan jadi blog yang luar biasa dan berbakti pada orang tua (?) blog ini dibuat oleh ketiga author diatas dengan senyuman yang luarbiasa manis ~
   dan dengan penuh cinta, kami persembahkan blog ini ..

Adi, Farah, Kiddy