Dinding Kami Berbeda
Deburan ombak berlomba memecah karangnya. Seakan semilir angin juga tak ingin kalah dengan angin di sekelilingnya. Perlahan – lahan telapak kaki memijat pasir pantai. Bahkan, jejaknya itu tidak mau pudar. Keadaan begitu sepi. Mungkin hanya dia yang sedang menyusuri jalan kecil itu. Sudah tampak dari jauh, tumpukan kayu berdiri lusuh di depan sana. Mungkin itu bukanlah tumpukan kayu,tetapi... gubuk. Kaki itu tetap bergerak fokus ke arah itu.
“Yaaaaah?”
“Ayah kamu masih kerja nak..”. Suara lembut terdengar
“Yaah, ini kan sudah aku belikan nasi campurnya bu”. Dijawabnya dengan manja.
“Ya sudah, sini Ibu bawa ke meja makan, nanti setelah Ayahmu pulang pasti dimakan”
“Mmm, sip deh. Retno tidur ya, Bu” .
“Ayah kamu masih kerja nak..”. Suara lembut terdengar
“Yaah, ini kan sudah aku belikan nasi campurnya bu”. Dijawabnya dengan manja.
“Ya sudah, sini Ibu bawa ke meja makan, nanti setelah Ayahmu pulang pasti dimakan”
“Mmm, sip deh. Retno tidur ya, Bu” .
Perempuan itu hanya tersenyum, menggerakkan lehernya ke atas lalu ke bawah berulang kali secara berurutan. Mungkin malam sudah melelapkan gadis kecilnya. Remang-remang lentera sederhana berdiri diatas papan kayu. Melewati alam bawah sadar hingga fajar mulai datang.
Kesehariannya mulai pagi adalah mandi lalu bersegera ke sekolah. Retno berpamitan dengan orangtuanya dan bergegas berangkat ke sekolah. Ia duduk di tingkat SMP. Tak seperti siswa siswi lainnya di Indonesia. Jarak ke sekolah ditempuhnya cukup jauh. Perjuangannya tidak bisa dikatakan ‘sedikit’, padahal itu hanya untuk sekolah, belum lagi perjuangan kehidupannya untuk keluarga. Kadang Retno juga membantu pekerjaan Ayahnya untuk menjual hasil panen ikannya. Untuk biaya sekolah saja ia suka menunggak, itu semua karena keterbatasan biaya keluarga Retno.
----------- *** -----------
“Selamat pagi anak-anak”. Sapa Ibu guru Retno, namanya Ibu Ashri.
“Pagi Bu...”.
“Wah, semangat sekali ya kalian, walaupun....”
“Atapnya rusak ya, Bu?”. Sahut salah satu murid yaitu Rina.
“Hmm... sabar ya Na, ibu tau kalian semua pasti tidak nyaman ya dengan kondisi sekolah seperti ini”
“Lalu, kapan Bu diperbaiki ?”. Tanya Retno penuh pengharapan
“Kalau masalah itu, sepertinya kita terpaksa harus menunggu bantuan dari pemerintah. Entah sampai kapan kita bisa diperhatikan oleh wakil rakyat negara ini,”
Memang sekolah Retno adalah sekolah satu-satunya di wilayah rumahnya, karena wilayah itu sangat terpencil dari kota. Sekolahnya berdiri atas bantuan warga, tepatnya sukarela. Bentuk sekolahnya hanya seperti gubuk milik warga lainnya. Guru hanya mendapatkan upah sedikit dari Yayasan. Guru di sekolah itu hanya 2, dan memiliki 1 kelas, dan lagi lagi karena ketidak mampan biaya. Jika di sekolah kota, membayar SPP saja ratusan ribu. Lain halnya dengan sekolah ini, para siswa membayar Rp. 20.000,- itu-pun Retno masih saja sering menunggak, sekolah sangat mengerti keadaan, jadi tidak memaksa para siswanya harus membayar. Secara keseluruhan tentang berdirinya sekolah itu adalah dari panggilan hati manusia untuk ikhlas membantu menyampaikan ilmu.
“Tapi, kalian tidak boleh patah semangat belajar hanya karena kondisi sekolah ini tidak nyaman, ibu tau kalian pasti ingin memiliki gedung sekolah yang bagus seperti sekolah di kota-kota lain itu lho,”
“Bu.. kami khan juga ingin...”. Tak sampai omongan Retno selesai, kelihatannya Ibu Ashri sudah mengerti maksud dari beberapa kata yang didengarnya tadi.
“Iya, Ibu mengerti, tapi kalian harus bersyukur. Yang harus disyukuri disini adalah bagaimana kita dapat menyerap ilmu banyak dan mengusahakan ilmu itu dapat bermanfaat untuk kalian. Apalah arti gedung sekolah yang mewah, luas, bertingkat, tapi jika siswa siswinya tidak dapat memanfaatkan ilmu dengan benar?. Maka dari itu, jika kalian rajin belajar dan sekolah, siapa tau nanti jika sudah besar nanti kalian bisa bersekolah di luar negeri? betul tidak?”
“Wah, iya.. iya, betul tuh..”. Rusuh anak-anak dalam kelas menganggukkan kepala mereka.
“Baiklah, ayo kita lanjutkan pembelajaran. Tugas kalian adalah menulis cita-cita / keinginan kalian ya, beserta alasannya. Waktu untuk menulis adalah 15 menit”
Tanpa banyak bicara, semua murid langsung menyambar pensilnya masing-masing. Mereka semua menuliskan apa yang diinginkan.
“Ada yang sudah ? Jika sudah, langsung berdiri dan membacanya ya..”
“Bu, saya sudah,”. Dengan siap Bejo berdiri dan membacanya
“Aku ingin punya rumah yang ada kolam renangnya, walaupun biasanya suka renang di pantai sih, lalu aku ingin punya guru les renang, aku ingin menjadi atlet renang yang hebat lalu lomba di luar negeri”.
“Wah, bagus sekali keinginanmu, ayo latihan di pantai dulu, baru kalau sudah mahir Ibu ajak ke kolam renang deh.. Selanjutnya siapa yang sudah selesai? Retno sudah? Kok melamun begitu hayoo...”
“Emh.. ng.... ti...tidak kok,Bu. Sudah selesai”. Tatapannya mendadak beralih.
“Boleh dibacakan?”. Tanya Bu Ashri sambil tersenyum manis agar Retno tidak grogi.
“Oke ,Bu. Jadi, keinginan saya adalah pertama saya ingin bersekolah di sekolah yang ada perpustakaannya, ada kantinya, jadi khan bisa pinjam buku dan beli makan sambil duduk-duduk sama teman-teman. Kedua saya ingin mendapat beasiswa bu, agar saya tidak menyusahkan kedua orang tua. Lagi pula mantap khan sekolah gratis, yuhuuu”
“Ckckck... Belajar yang gigih ya”.
Bu Ashri terlihat begitu kagum dengan Retno yang memiliki banyak keinginan. Beliau hanya berharap dengan semangat Retno itu suatu saat keinginan salah satu muridnya tersebut akan tercapai.
---------- *** ----------
Siang yang terik, jalan raya yang sudah mulai dipadati dengan asap kendaraan. Peluhnya sudah mengumpul di dahinya . Berkulit putih, tinggi, badan yang bagus dan tinggi. Rambut keriting yang menggantung panjang mulai diikatnya. Terlihat begitu mengeluh letih. Sendiri yang membuatnya gelisah. Mimik wajahnya berubah riang, dilihatnya bangunan yang menjulang tinggi, membuatnya seakan ingin masuk lalu merebahkan badannya diatas kapuk empuk, ya, sudah terbayang olehnya.
“Duuuuuh, reseeeeee!!”. Lalu melemparkan tasnya pada sofa cokelat. Sofa itu terlihat sangat empuk hingga tas miliknya terpantul. Jelas sekali kualitasnya mahal. Tampakya terbuat dari rotan.
“Lho lho lhooo... ini kenapa anak mama yang paling pintar, cantik, imut, manis,alay...”
“Stop stop stop stoooop!!!!!! Aduh, please deh ya mom, bikin mood lebih rusak aja deh”. Lalu dia mengkerutkan dahinya, kebiasaannya juga memajukan bibirnya saat dia sedang marah dengan seseorang.
“Iya deh, maaf ya sayang.. memangnya kenapa? Pulang sekolah mukanya sudah cemberut gitu?”
“Gini deh, mommy gak tau ya? Si Pak Juan itu tadi telepon aku, dia bilang katanya gak bisa jemput aku sekolah, alasannya sih katanya mau antar papa ke Bandung..,”. Mimik dan intonasinya manja sekali.
Dia adalah anak pertama dan terakhir, maka dari itu dia selalu dimanjakan oleh mama dan papanya, panggil saja Anggun. Anggun hidup di kota dengan kehidupan yang berkecukupan. Sekolahnya saja mewah. Tentu saja setiap orang tua ingin membahagiakan anaknya, salah satunya dengan cara menyekolahkan anaknya di sekolah yang mutunya bagus, gedungnya besar, dan sekolah yang dibilang ‘sekolah favorite’. Sekolahnya bertingkat, kelasnya saja memiliki fasilitas yang dikatakan lebih dari cukup, ber-AC. Pasti untuk membayar sekolahnya saja mahal.
“Lebih parahnya lagi, aku jadi gak bisa ikut temen-temen buat jalan bareng ke mall buat shopping mom, please yeaaa hellooooo!!”. Tetap menunjukkan intonasi yang terdengar menyebalkan.
“Ya sudah, khan bisa lain hari kalian ng-mall bareng lagi, jangan cemberut dong, nanti gak anggun lagi lho, hehehe”. Disentuhnya rambut gadisnya yang terurai bagus, halus sekali rambutnya hingga mudah saja untuk membelai rambut milik Anggun.
“OHMY!!!. Anggun mau ke kamar dulu, isirahat, Anggun capek abis naik angkot, jalan pula, ewhhh, kamseupaaay hari ini!!!”. Anggun bergegas membawa tasnya lalu mengunci pintu kamarnya dengan kasar, sangat terlihat sekali penderitaan Anggun hari ini, mamanya hanya tersenyum karena beliau mengerti tidak biasanya anaknya menjalani keseharian seperti ini, apalagi naik angkot”
---------- *** ----------
Kerlap kerlip cahaya teve dengan seorang gadis yang duduk di sofa melihat dengan tegang berjalannya sinetron.
“Angguuuun, ayo belajar dulu, jangan nonton teve terus, besok ada ulangan gak?”. Teriakan mamanya itu serentak membuat Anggun risih.
“Aduuh mom, hari gini masih jaman belajar? Besok khan juga belajar di sekolah, gak ada mom!!”. Serunya, sambil berusaha mencapai suaranya agar bisa sampai ke kamar mamanya.
---------- *** ----------
Lain halnya dengan Retno. Gadis yang mulai menginjak remaja itu giat belajar, pastinya termotivasi dari keinginannya selama ini dan lagi lagi hanya ada lentera sebagai penerangan agar bisa mengukir tinta hitam pada kertas lusuh miliknya. Kehidupan di kota dan pelosok sangatlah berbeda, dari pergaulan-pun juga. Mungkin tergantung orang yang menjalaninya bisa mengatur hidup mereka masing-masing, tetapi begitulah perbedaannya.
Hari mulai semakin larut. Jarum jam-pun terus berputar. Jarum pendek dan jarum panjang jam kompak mengarah pada angka 12. Tiba-tiba matanya bergerak keatas, membuka mata lalu.... terbangun.
“Aku bermimpi ada banyak gadis disana yang beruntung, bisa menjadi wanita karir, apa karena sekolahnya mewah? Aaah, sudahlah, kata Bu Ashri khan kita harus bersyukur. Suatu saat nanti pasti aku percaya, Tuhan akan membantu”. Senyumnya merebah lalu mengantarkannya terlelap kembali.
---------- *** ----------
Pagi dunia mulai menyapa. Teriknya mengalahkan tirai biru lalu masuk melalui lubang kecil kainnya. Cahayanya yang lurus mengarah pada mata Anggun seakan ingin membangunkannya dari malam lalu berganti ke fajar hari itu. Semangatnya begitu menonjol hari ini. Diraihnya kain putih dan dibawanya ke kamar mandi untuk mengeringkan badannya. Seperti biasanya setelah mandi dan berpakaian rapi, pembantunya sudah menyiapkan berbagai makanan lezat yang tentunya bergizi. Meja makannya-pun mewah. Mama dan papanya sudah menunggu Anggun di ruang makan.
“Anggun, masalah kemarin daddy minta maaf ya, Pak Juna lagi pulang ke kampung, jadi daddy minta Pak Juan anterin daddy ke Bandung, maaf ya sayang..”. Ujar papanya seketika
“Oh, it’s okay dad”. Jawabnya riang, mungkin dia sudah melupakan betapa susahnya dirinya kemarin siang.
“Tuan, ini korannya baru datang”. Tanti adalah pembantunya, tidak hanya Tanti saja yang menjadi pembantu di rumah keuarga Anggun, ada 2 pembantu perempuan lagi yaitu Harti dan mbok Minul. Keluarga Anggun memiliki 2 sopir pribadi yaitu Pak Juan dan Pak Juna.
Anggun terlihat lapar, dengan cepat dia mengoleskan selai rasa stroberi pada roti tawar yang berada di telapak tangannya. Lalu dengan lahap dia menyantap roti tawar itu, selai stroberi yang masih terasa di sela bibirnya seperti diajak oleh lidah untuk masuk ke langit mulut lalu dirasakan nikmatnya. Papa Anggun sibuk menghisap lal meminum kopi hangat dengan santainya sambil membaca koran, sedangkan mama Anggun sibuk menyiapkan tas kerja suaminya.
“Eh , eh , Nggun.. Baca deh ini,” Lalu koran itu berpindah tangan.
Anggun hanya membaca judulnya sekejap lalu arah matanya tertuju kembali ke papanya.
“Iya, tentang Hardiknas, di koran itu, katanya banyak siswa yang kurang mampu untuk bersekolah, lalu ada juga di pelosok sekolahnya sangat kurang memenuhi standart, perjuangan murid di negeri ini yang bekerja sendiri contohnya jadi pengmis, pengamen, padahal hanya untuk bisa membayar uang sekolah. Miris ya?”. Terang Ayahnya panjang lebar hingga melihat ekspresi wajahnya sangat mengerti apa yang diberitakan di koran.
“Kasihan ya dad, kok orang tua mereka bisa gak mampu gitu ya buat menyekolahkan anaknya, khan demi...”
“Nah, maka dari itu, sebenarnya kamu bersyukur sudah diberi rejeki oleh Tuhan, sekolah tujuannya untuk mencari ilmu, daddy ingin kamu di sekolah bisa memahami prosesnya, bukan untuk mengejar nilai. Daddy ingin kamu bisa mengerti, memahami segalanya dari masing-masing ilmu, lalu menurut kamu apalagi gunanya sekolah itu?”
“Hmm.. untuk cari temen, bersosialisasi dengan lingkungan, and for sure hangout with friends!!! Right?”
“Ckckck Anggun, memang sebagian dari kamu benar, hanya saja ada yang salah.. Tujuan sekolah bukan agar bisa jalan ke mall bersama banyak teman – temanmu yang gaul itu, tapi yaa.. seperti tadi yang sudah daddy jelaskan, uang bukan untuk dihambur-hamburkan, daddy susah lho cari uang, kerja, itu semua bukan buat dihambur-hamburkan, tetapi untuk kebutuhan hidup Anggun, daddy, mommy.. “
“Haha, maaf ya dad kalau selama ini Anggun manja, Anggun baru bisa bayangin betapa banyaknya anak-anak yang belum bisa sekolah, lalu mengapa Bapak,Ibu Pejabat tidak membantu mereka? Bukannya mereka berkecukupan lebih, dan seharusnya lebih merangkul rakyatnya?”
“Tugas pejabat tidaklah sedikit, Nggun. Mereka harus megurus tugas negaranya sesuai bidang yang sudah ditentukan oleh presiden. Maka dari itu kamu kalau sudah besar harus membantu negara ya.. jadi anak Indonesia yang berguna, boleh tuh kalau di bidang pendidikan”
“Waah, amieen dad. Lain waktu kita ke desa gitu kek, memantau anak-anak disitu, pengen deh bisa mendirikan sekolah gratis disana, wooow, asyik pasti!”
“Nah, gitu dong gadisnya daddy...”
Mereka tertawa bersama sambil menyadari betapa mahalnya sifat sederhana. Anggun juga menyadari bahwa masih banyak anak yang kurang mampu dan mereka tidak bisa sekolah atau menginginkan sekolah yang layak untuk mereka. Tanpa disadari salah satu contohnya adalah Retno dan kawan-kawannya.
---------- *** ----------
Lalu bagaimana tanggapan Pemerintah tentang Hardiknas mengingat banyak anak-anak di Negeri ini yang belum bisa bersekolah karena keterbatasan biaya, sehingga mereka harus ikut bekerja seperti orang tua mereka, lalu masih banyak sekolah yang belum layak dari segi kualitas, gedung, sistem pengarajarannya?







Tidak ada komentar:
Posting Komentar